Fanatisme Buta menjelang pilpres 2024

Fanatisme Buta menjelang pilpres 2024

وَجَدْتُ موَدَّةَ الأعمى، وَعَدَاوَةَ الْعَاقِلِ، أُسْوَةً فِي الْخَطَرِ

Dukungan dari pendukung yang buta/fanatik sama bahayanya dengan permusuhan dari musuh yang brilian”. ~Sahl bin Harun.

Nuansa kampanye PILPRES 2024 sudah mulai bergulir, riak dan ombak terdengar berarak keberbagai jalan dataran setapak, rukun keluarga dan tetangga kini mulai terusik dan tercabik – cabik, tiupan angin fanatik buta kian terasa kencang dan tegang di era politik post truth (era di mana kebohongan dapat menyamar menjadi kebenaran dengan cara memainkan emosi dan perasaan) yang kian meradang, tidak sedikit orang sudah khilap dan kalap membela jagonya dengan tanpa malu memperkosa norma sosial dan norma agama, menceraikan akal sehat tanpa melihat dan berpikir ulang “äpakah ini yang Allah sukai?”. Rasa simpati dan empati dalam spektrum ngaji rasa sebagai pondasi agama telah hilang tergadaikan. Tahun politik acapkali membutakan ikatan persaudaraan dan membuat tuli pendengaran cinta dan citra sosial yang dulu telah terbangun oleh para leluhur.

Fenomena musiman tersebut tak aneh lagi bagi para penggiat bijak bestari kehidupan (orang-orang arif). Mereka sudah faham manakala memasuki musim politik maka suara genderang sumbing berbunyi lantang bak perang, hoaxs politik bertebaran baik dari peserta politik, timses politik, agen politik dan para fans yang sangat fanatik, konten hoaxs politik bisa berisi kampanye negatif (membombardir masyarakat tentang kesalahan dan kejelekan lawan politik yang tidak benar atau belum pasti) ataupun kampanye hitam (menuduh lawan dengan tuduhan palsu atau belum terbukti) dan lain sebagainya. Lebih mirirs lagi manakala ada ustadz – ustadzan dan ilmuan-ilmuanan (gadungan) yang di karbit oleh mesin politik makin bertebaran untuk melatih lidah orang-orang awam agar lincah menyayikan lagu – lagu hinaan (saling share narasi negatif, foto ataupun video di berbagai platform media sosial yang bernada kebencian, menakut – nakuti dengan cara mengaduk – aduk emosi dan perasaan publik), dan juga melakukan tarian merendahkan pada orang yang berbeda pilihan dengan liukan – liukan yang berpotensi memecah belah persaudaraan dan persatuan dengan dalih inilah suara Tuhan.

Tempat-tempat khusus yang sakralpun hampir tak luput dari bidikan oleh sebagian para politikus rakus yang telah merekrut para calo/buzzer offline dan online musiman yang ia sebarkan di tengah kota dan pelosok pedesaan, mulai dari lembaga kemasyarakatan, lembaga pendidikan sampai lembaga keagamaan, disana telah terpasang ranjau – ranjau kekuasaan oplosan temporal, gaji dari profesi buzzer musaiman ini memang sangat menggiurkan mulai dari Rp 1 juta – 50 jutaan (menurut penelitian Oxford University). Dalam forum-forum kajian agamapun tak sedikit dari para tokoh agama mulai bertambah peran menjadi dalang wayang perpolitikan, bahkan ada sekelas guru/ustadz yang dinilai sebagai tokoh pun tidak sedikit bisa memaki dan menghardik lawan bicaranya yang dinilainya berbeda pandangan dengan kata – kata aji keabnormalan menurut adat ketimuran, jika sang ustadz berkata agama dapat mempersatukan umat dan menguatkan bangsa, tetapi di sisi lain ia juga telah melakukan pelanggaran ajaran agama yang memesankan agar selalu memupuk dan mengutamakan persaudaraan diatas wayang perpolitikan yang ia nobatkan sebagai jagoan tanpa noda kekurangan. Mungkinkah tidak memahami bahwa audiens’nya itu beragam dan mungkin lebih dekat dengan Tuhan? dengan tanpa malu ia sebarkan virus-virus kebencian dengan argumen data-data bohong ataupun lemah di tangan yang diyakini paling valid dan relevan, dengan latahnya ia lakukan olokan dan cacian kepada calon yang bukan pilihannya tanpa ragu dan malu. Apakah lupa dengan status dan tugasnya sebagai agamawan?

Ada yang perlu difahami oleh kita bersama bahwa dalam disiplin ilmu agama dan ilmu sosial, ikhtilaf (perbedaan pandangan) adalah sunnatullah dan hal tersebut wajar dan bernilai keberkahan bagi kita hambaNya yang berfikir. Sebagai contoh perdebatan antara ulama ataupun ilmuan biasanya terletak pada perbedaan sudut pandang ataupun pada sisi metodologinya terhadap suatu fakta, mereka yang sejati sudah sangat terbiasa menyandingkan sudut pandang mereka tanpa memaksakan kehendak, ucapan dan tindakan mereka saat beradu argumen dari sudut pandang itu sangat mencerahkan dan mencerdaskan bagi jamaahnya, bukan malah sebaliknya yang malah mengkultuskan/fanatik dan memusuhi yang berbeda pilihan. Hal lain juga perlu dicatat adalah suhu politik itu dimanapun akan seperti itu hangat lalu memanas, maka perlu disadari dan disikapi dengan arif dan bijaksana, sedangkan kuncinya itu ada ditangan kita semua. Dengan demikian perlu diketahui dan difahami agar kita tidak bertindak gegabah dalam memilih. Pemilih di Indonesia bila diklasifikasikan itu terdapat 3 tipe :

1.Pemilih Emosional

Pemilih yang memiliki hubungan emosional sangat kuat dengan identitas yang membentuk dirinya sejak lahir (paham ideologis, agama, dan budaya). Pemilih emosional terbagi dua: 1).Pemilih aktif – emosional : Sangat mudah terprovokasi dan sangat cepat merespons isu identitas, 2).Pemilih pasif – emosional: pemilih yang tidak menampakkan emosinya secara terang benderang.

2. Pemilih Rasional – Emosional

Pemilih yang cenderung akan diam ketika melihat isu yang bersifat agama, identitas dan simbolik digaungkan karena mereka membutuhkan waktu untuk memproses informasi tersebut. Merupakan tipe yang punya pandangan konservatif secara nilai, tapi ia lebih rasional dalam mengambil tindakan.

3. Pemilih Rasional

Pemilih yang mengesampingkan faktor emosional dalam memaknai  suatu informasi. Kelompok ini termasuk dalam kategori kritis dan skeptis, tipe ini yang paling ideal dalam politik elektoral.

Dengan demikian, tidaklah cukup memilih dengan cerdas, namun juga harus dibarengi hati nurani yang bersumber dari suara Ilahi (minta petunjuk Allah dengan shalat) mana yang terbaik menurutNya, karena setiap pilihan itu pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing – masing, junjung tinggi respek terhadap lain pilihan dan komit terhadap apa yang diyakini, tanpa menjelek – jelekkan, jelaskan dengan santun atau diam !!!

Maksud dari memilih dengan cerdas itu paling tidak menggunakan ilmu filsafat untuk berfikir secara tertib, benar, luas lagi mendalam, karena ia berisi ontologi (yang membicarakan hakikat sesuatu), epistemologi (yang membicarakan cara memperoleh sesuatu), dan aksiologi (yang membicarakan manfaat sesuatu) dan juga diperkuat dengan ilmu alat dari ulama yaitu kaidah fiqih sosial, sebagai contoh menggunakan kaidah:

إذا تعارض المفسدتان رعي أعظمهما ضررا بارتكاب أخفهما

Ketika dihadapkan pada dua mafsadah (kerusakan), maka tinggalkanlah mafsadah yang lebih besar dengan mengerjakan yang lebih ringan (keburukannya)”.

واعلم أن تقديم الأصلح فالأصلح ودرء الأفسد فالأفسد مركوز في طبائع العباد … ولا يُقدَّمُ الصالح على الأصلح إلا جاهل بفضل الأصلح أو شقيٌ متجاهل لا ينظر إلى ما بين المرتبتين من التفاوت

“Ketahuilah, mendahulukan sesuatu yang lebih maslahat demi kemaslahatan yang lebih besar, menolak kemafsadatan (kerusakan) karena adanya kemafsadatan yang lebih besar lagi adalah sudah menjadi tabiat dasar manusia… Tidaklah mendahulukan suatu maslahat demi meninggalkan kemaslahatan yang lebih besar kecuali hanya orang yang bodoh, tidak mengetahui pentingnya kemaslahatan yang lebih besar, atau ia orang yang celaka dan membutakan diri, tidak mau melihat kepada perbedaan dua derajat kemaslahatan itu.” (‘Izz al-Dîn ibn Abdu al-Salâm, Qawâ’idu al-Ahkâm fi Mashâlihi al-Anam Juz 1, Beirut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, tt., 7).

Kaidah/teks di atas, adalah metodologi dari Syekh Izzu al-Dîn ibn Abdu al-Salâm seorang sulthanul ulama (rajanya para ulama). dalam memandang kemaslahatan secara ringkas adalah: (1) terlihat, (2) ada sebab yaitu timbulnya kemaslahatan yang lebih besar, (3) jelas perbedaannya antara kedua kemaslahatan tersebut, dan (4) dapat diukur. Tidak ada sesuatu yang bisa dianggap sebagai ashlah (lebih maslahat) tanpa pengukuran, dan pengukuran ini hanya ada pada metodologi riset. Dengan demikian, sesuatu dianggap maslahat bila ada data yang menunjuk kepada lebih maslahatnya itu. Jadi, kata kuncinya adalah “data. Adapun posisi nash adalah sebagai kalibrasi atau tolok ukur dan shalat (istikharah) sebagai penguat dan ketenangan. Jika kita mencari yang sempurna itu hampir mustahil, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata, sebagaimana dikatakan oleh beliau pula:

واعلم أن المصالح الخالصة عزيزة الوجود. فإن تحصيل المنافع المحضة للناس كالمأكل والمسكن لا يحصل إلا بالسعي في تحصيلها بمشقة الكد والنصب. فإذا حصلت فقد اقترن بها من المضار والآفات ما ينغصها

“Kemaslahatan murni itu sangat sulit terwujud. Upaya mencapai kesejahteraan bagi masyarakat seperti di bidang pangan dan papan hanya bisa diraih dengan jerih payah dan perjuangan keras. Karena itulah kemaslahatan yang diraih (nyaris selalu) bercampur dengan sisi mudarat yang mengiringinya.” (‘Izz al-Dîn ibn Abdu al-Salâm, Qawâ’idu al-Ahkâm fi Mashâlihi al-Anam Juz 1, Beirut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, tt., 7).

Dari dua kaidah fiqih di atas sangat korelatif untuk dijadikan landasan berfikir dalam memilih, hindari fanatisme buta! karena ia seumpama ejakulasi dini kejiwaan yang dampaknya sangat merugikan bagi diri dan sekitarnya, di lain sisi kita harus melek terhadap politik (edukasi politik) agar mendapatkan landasan dasar data relevan.

Akhir kata saya tutup dengan maqolah Imam Syafií:

وَعَينُ الرِضا عَن كُلِّ عَيبٍ كَليلَةٌ

وَلَكِنَّ عَينَ السُخطِ تُبدي المَساوِيا

Mata yang simpati/suka menutupi segala cela/kekurangan

Mata yang benci melihat semua nista/buruk

Kalau sudah suka dengan “A” ataupun “B” acapkali tak terlihat cela/aib mereka. Kalau sudah benci maka tak selamat keduanya dari lisan yang menista. Wallahu a’lam.

أللهم قني شر نفسي واعزم على رشدي أمري ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا

Semoga Allah memperbaiki kondisi para penguasa dan pemimpin bangsa ini dan kaum muslimin. Aamiin

By: Ahmad Idhofi

LANA CAPRESUNA WALAKUM CAPRESUKUM

LANA CAPRESUNA WALAKUM CAPRESUKUM

(bagiku CAPRES-ku dan bagimu CAPRES-mu)

فإذا كان الحٌبّ يُعمِي عن المساوئ فالبُغض أيضاً يُعمِي عن المحاسـنْ (الجاحظ)

“Jika cinta dapat membuat seseorang buta terhadap segala keburukan, maka kebencian dapat membuatnya buta atas segala kebaikan”. (Al-Jahidh).

Suatu ketika dalam halaqah ilmiah, ada seorang mahasiswa bertanya padaku. “Mr… menurutmu siapa Capres yang baik dan tepat antara si “A atau si B?”. Sejenak saya terdiam sambil menghela nafas panjang, huff… dalam hati saya bergumam “waduh topik sensitif nih Poli2”. Kemudian saya coba menjawab, jadi begini le’ jawabku “CAPRES yang baik dan cocok untuk memimpin bangsa kita ini ialah CAPRES yang nanti Allah takdirkan jadi pemimpin negara kita”. Seloroh dia menimpali, “Loh… kok jawabannya jadi bias begitu Mr” sautnya. Lalu saya mencoba jelaskan maksud jawaban saya tadi “kenapa saya jawab demikian?, ya karena secara tidak langsung pertanyaan anda itu bak buah simalakama atau boomerang bagi seseorang, ketika dijawab si A, maka para pemilih B merasa tersinggung dan kesal, bahkan menilai saya tak layak lagi menjadi figur tutor baginya, bahkan bisa jadi malah memusuhi saya, begitupun sebaliknya. Kenapa demikian, harap dimaklum aja bahwa sebagian masyarakat kita itu belum sepenuhnya siap dan dewasa untuk berpikir objektif kebhinekaan, saling menghargai perbedaan pandangan dan pilihan dsb, perlu diketahui bahwa tipe pemilih atau pendukung itu ada empat: 1). Tipe Rasional (melihat figur sec personal, program, rekam jejak, sampai rencana yang ditawarkan). 2).Tipe Kritis (melihat figur. background partai politik yang mengusung, pertimbangan di banyak aspek). 3).Tipe Skeptis (hanya mempercayai calon pilihannya saja dengan cara menjelek-jelekkan calon lain, atau tidak mempercayai semua calon yang ada memiliki kemampuan). dan 4).Tipe Tradisional (pendukung loyal yang siap digerakkan dan bergerak untuk membantu calon pilihannya menang).

Saya coba terus jelaskan padanya “Sekarang coba anda kaji lagi tentang teori dasar research polling penelitian (kualitatif)! bahwa istinbatul ahkam/pengambilan keputusan si peneliti atau pemilih itu dalam proses penyimpulan pada umumnya itu berdasar dan terikat pada faktor alam relativitas/ketergantungan yang mengitari diri si peneliti/pemilih baik premis-premis minor ataupun mayor, semisal dari sumber data informasi-informasi langsung ataupun tidak langsung yang sering dikonsumsi dan dianalisa, dari obrolan teman (offline atau WAG), kerabat, guru dll, dimana mana nantinya akan mempengaruhi sisi emosionalnya terhadap keputusan pilihan si peneliti/pemilih tsb, karena kebanyakan aktifasi otak manusia seringkali mendahulukan EQ daripada IQ.

Oleh karena itu,,, ketika anda menyatakan bahwa “Pemimpin yang tepat bagi bangsa kita ini adalah si A ataupun si B”, tentulah pernyataan tersebut didasarkan pada informasi, sugesti, kecenderungan psikologis dll yang diperoleh diri si pemilih yang mengantarkan pada suatu keyakinan, inilah yang dinamakan konsep diri, singkatnya, alam subjektivitas yang ada pada diri andalah yang mendorong keputusan-keputusan tsb. Maka dari itu, disadari ataupun tidak, bahwa sumber data informasi pergaulan dan pengalaman anda itu akan menumbuhkan dan membuahkan kesimpulan dan keputusan yang mewarnai kehidupan anda, pengaruh tersebut ada yang berbentuk amil/pengaruh dari golongan Jar’, nashab ataupun Jazm (dalam kajian sintak), gitu loh.

“Oh… betu ya Mr…” si mahasiswa menimpali sambil menganggukkan kepalanya. Lalu, bagaimana kita menyikapi orang-orang yang fanatis pada salah satu pemimpin, bahkan dengan semangat ia suka mengirim dan mempost informasi negatif dengan maksud ingin menjatuhkan citra dan elektabilitas pemimpin yang tidak sesuai dengan waduknya/pilihannya dengan alasan ini kritikan baginya Mr..? Oh,,, itu, begini saja Le’, jika anda menemukan tipikal pribadi-pribadi seperti itu, maka acuhkan dan do’akan saja untuk kebaikannya! Karena  Perlu diketahui bhw memang banyak kritikus di negeri ini, kurang lebih ada 5 jenis Kritikus: 1).Kritikus tulus yang ingin perbaiki keadaan (konstruktif). 2).Kritikus tulus yang kurang informasi atau salah informasi. 3).Kritikus oposisi yang ingin lawannya jatuh (destruktif). 4).Kritikus yang ingin dianggap sebagai orang penting (cari panggung). 5).Kritikus yang ingin jualannya dibeli dengan materi atau kedudukan (calo pesanan). Nah,, orang-orang model seperti itu memang ada yang sengaja dibentuk secara struktural alias buzzer dalam rangka mem-braindwash/mencuci otak atau mempengaruhi objek/pemilih dan ada yang secara kultural alami sudah terinfeksi virus CIRENG (benci dan suka menggoreng), CILOK (Suka mencaci dan mengolok-olok) dsb, jadi tanpa sadar ia-pun turut andil menjadi calo amatir yang memiliki tujuan yang sama untuk mempengaruhi domba-domba yang tersesat, menurut dirinya. He,,,

Sudah! begini aja ya adek adek semua,,, terakhir saya simpulkan dan sarankan:

1. Jika ada pertengkaran, kebencian dan permusuhan, maka dapat dipastikan bahwa dia itu bukan Abdullah/hamba Allah, tetapi ia adalah Abdul Illat (budak nafsunya).

2. Hormati dan hargai ijtihad politik dari saudara-saudara kita & Berdamailah dengan dirimu.

3. Jangan underestimate dan jualan gorengan terhadap ijtihad politik orang.

4. Bersikaplah objektif dan lemah lembut terhadap perbedaan dsb.

5. Bilamana menemui orang-orang yang selalu mengingikan perdebatan tanpa ilmu dan adab, maka hindarilah! Karena Imam Syaf’I dan Sahl bin Harun mengingatkan bahwa:

قال الإمام الشافعي: مَا جَادَلْتُ عَالِمًا إِلَّا غَلَبْتُهُ وَلَا جَادَلْتُ جَاهِلًا إِلَّا غَلَبَنِي

“Setiap kali berdebat dengan kelompok intelektual, aku selalu menang. Tetapi anehnya, kalau berdebat dengan orang bodoh, aku kalah tanpa daya.” (Imam Syafi’i dalam kitab Mafahim Yajibu an Tushahhah)

وَجَدْتُ موَدَّةَ الْجَاهِلِ، وَعَدَاوَةَ الْعَاقِلِ، أُسْوَةً فِي الْخَطَرِ

“Dukungan dari pendukung yang bodoh sama bahayanya dengan permusuhan dari musuh yang brilian. ~Sahl bin Harun.

6. Banyak-banyaklah anda mendo’akan kebaikan bangsa dalam munajat.

Wallahu a’lam.

Ahmad Idhofi

Belajar dan Mengajar di Era Medsoss

Belajar dan Mengajar di Era Medsoss

Banyak orang pintar yang jago meneliti dan tulisan hasil risetnya begitu keren, namun ketika ia mengajar di depan kelas, mahasiswa tertidur mendengarkan materi kuliahnya yang menjemukan. Sementara sebaliknya, banyak dosen yang jago ngomong dan membuat perkuliahan terasa segar tapi apa yang dia sampaikan bagaikan memutar ulang lagu yang itu-itu saja –tidak ada data riset baru yang dia sampaikan karena memang dia jarang sekali meneliti. Kurang update, kalau kata anak muda sekarang.

Di dunia akademik, dosen dituntut untuk hebat dua-duanya: riset dan mengajar. Kalau hanya jago riset, ya cukup jadi peneliti saja. Kalau hanya pintar mengajar dan tidak melakukan riset maka cukup mengajar di tingkat SMU saja. Bahkan di kampus yang sudah masuk kategori world class research university sekalipun aspek teaching tetap menjadi perhatian penting.

Salah satu metode yang tengah dikembangkan adalah menjadikan mahasiswa sebagai pusat pembelajaran. Jadi, dosen bukan sekedar menjadi aktor utama dalam lakon monolog tapi aktif menjadi kawan dialog dengan mahasiswa. Kalau cuma monolog ya apa bedanya dosen dengan khatib Jum’at?

Saat ini dalam era digital, mahasiswa bisa dengan mudah mendapatkan info apapun termasuk materi yang diajarkan dalam perkuliahan. Maka metode menghafal sudah banyak ditinggalkan. Kenapa harus menghafal kalau info yang dicari semuanya ada di internet? Ini akhirnya mempengaruhi cara dosen mengajar. Dosen yang hebat itu bukan sekedar mentransfer ilmunya tapi juga mampu menginspirasi mahasiswanya untuk terus mencari pengetahuan di luar kelas. Kalau mahasiswa tertarik dengan penjelasan dosen di dalam kelas, dia akan mencari tambahan info di luar kelas, termasuk ke perpustakaan atau internet.

Yang mengkhawatirkan sekarang adalah mahasiswa generasi media sosial ditengarai tidak lagi rajin membaca literatur. Buku-buku tebal itu dianggap bahasannya sudah berat dan sajiannya tidak interaktif dan atraktif. Walhasil, mahasiswa lebih banyak membaca status facebook atau kultwit di twitter. Banyak pakar yang khawatir bahwa generasi medsos ini adalah generasi yang paling malas baca buku atau hadir di perkuliahan.

Pada satu sisi sajian di media sosial yang disampaikan para dosen dan peneliti itu merupakan hasil ramuan dan ringkasan pengetahuan atau bacaan mereka, namun tentu saja itu tidak akan mendalam dan bagaikan irisan bawang yang disampaikan baru kulit luarnya saja. Sebaiknya sajian yang menarik di medsos mampu menginspirasi untuk pembacanya mencari info lebih lanjut. Jadi, pembaca tdak hanya berhenti di share atau retweet saja.

Candaan saat ini dengan beberapa kolega saya di Monash yang juga aktif di medsos: dosen kini tidak hanya dituntut jago meneliti dan pintar ngomong di depan kelas, tapi juga harus rajin update status di medsos, dan berapa banyak followers di medsos seharusnya juga digunakan untuk menentukan ‘impact factor’ riset kita.

Mudah-mudahan kami para dosen tidak keasyikan main twitter dan facebook sehingga melupakan tugas utama yaitu meneliti dan mengajar, dan kawan-kawan mahasiswa tidak lupa untuk tetap membaca buku-buku tebal selain mengakses medsos.

Ungkapan klasik al-Ilmu fis sudur la fis sutur (ilmu itu tersimpan di dalam dada bukan di kertas), masihkah relevan kini? Yang terjadi sekarang ilmu itu tersimpan di hp dan ditaruh di saku baju depan dekat dada 

Nadirsyah Hosen

Bagaimana Menyikapi Fatwa yang Kontroversial?

Bagaimana Menyikapi Fatwa yang Kontroversial?

Sebagian dari kita cenderung reaktif jikalau mendengar ada fatwa yang terkesan aneh dan kontroversial. Bahkan tanpa ilmu yang memadai mereka langsung mencerca dan mencemooh ulama yang mengeluarkan fatwa kontroversial. Mereka tidak bisa menerima perbedaan fatwa, apalagi fatwa yang terdengar aneh.

Sebenarnya selama fatwa tersebut berdasarkan kaidah keilmuan maka tidak ada yang aneh. Kontroversi itu hal biasa. Pendapat jumhur atau mayoritas ulama belum tentu benar, dan pendapat yang berbeda belum tentu salah. Sepanjang sejarah pemikiran Islam, para ulama biasa berbeda pendapat. Pada satu kasus, ulama A berbeda dengan jumhur ulama. Pada kasus lain, justru ulama A yang membela pendapat jumhur. Inilah indahnya keragaman pendapat, sebagaimana ditegaskan oleh Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam kitabnya Mausu’ah al-fiqh al-Islami wa al-qadlaya al-mu’ashirah.

Perbedaan pendapat, jikalau dipahami dengan proporsional, akan membawa rahmat. Umat tinggal memilih satu pendapat yang lebih cocok, lebih sesuai dan lebih maslahat serta lebih mudah dijalankan, di antara sekian banyak pendapat. Rasulullah SAW pun jikalau dihadapkan pada dua perkara, beliau SAW akan memilih perkara yang lebih mudah. Karena semua pendapat mazhab itu memiliki dasar dan dalil dari al-Qur’an dan Sunnah, maka pertanyaannya bukan lagi pendapat mana yang benar, tapi pendapat mana yang lebih cocok kita terapkan untuk kondisi yang kita hadapi.

Kalau soal kontroversi, ulama mana yang tidak dianggap kontroversial? Semua ulama pada masanya pernah dianggap fatwanya aneh dan kontroversial. Misalnya, Imam Syafi’i berbeda pandangan dengan mayoritas ulama ketika mengatakan anak hasil zina boleh dikawini oleh ‘bapak’nya. Ini pendapat yang bikin heboh. Atau bagaimana Imam Malik berpandangan anjing itu suci, dan tidak najis. Ini berbeda dengan pandangan jumhur ulama. Atau ada pendapat lain yang terkesan sepele tapi terdengar aneh. Kalau anda berbohong saat berpuasa, apakah puasa anda batal? Menurut Imam Dawud al-Zhahiri, puasa anda batal. Menurut jumhur ulama, tidak batal. Apakah saat anda tersenym ketika sedang shalat, shalat anda batal? Iya, batal, menurut Imam Abu Hanifah, dan tidak batal menurut jumhur ulama. Apakah kalau anda makan daging unta, wudhu anda batal? Iya, batal, menurut Imam Ahmad bin Hanbal, tapi tidak batal menurut jumhur ulama. Apakah kalau anda minum nabidz (selain dari perasan anggur) dan tidak mabuk itu hukumnya halal? Iya, nabidz itu halal pada kadar tidak memabukkan menurut Imam Abu Hanifah, tapi dinyatakan haram oleh jumhur ulama baik mabuk atau tidak. Apakah yang haram itu hanya daging babi saja atau semuanya termasuk lemak dan tulangnya? Jumhur bilang semuanya dari babi itu haram, tapi Imam Dawud al-Zhahiri bilang hanya daging (lahm) nya saja yang haram.

Contoh-contoh di atas bisa terus berlanjut, dan semua ulama mazhab pernah berbeda dengan jumhur ulama. Dengan kata lain, pendapat mereka dalam kasus-kasus tertentu dianggap aneh dan kontroversial. Namun bukan berarti mereka pantas untuk kita cerca atau cemooh. Sesuai hadits Nabi, jikalau mereka salah dalam berijtihad, mereka mendapat pahala satu. Dan jikalau ijtihad mereka benar, maka mereka mendapat pahala dua. Apapun hasil ijtihad mereka, mereka tetap mendapat pahala. Dan kita yang tidak pernah berijtihad, dan hobinya cuma mencerca ulama manakala mendapatkan kesimpulan yang berbeda dari biasanya, bukannya dapat pahala, jangan-jangan malah dapat dosa. Naudzubillah.

WaAllahu a’lam Tabik,

Nadirsyah Hosen

AGAMA ROBOT

AGAMA ROBOT

Mengapa nabi Musa dipertemukan dengan nabi Khidir?…

Tiada lain adalah sebuah teguran atas klaim ke-Akuan sekaligus merekonstruksi mindset nabi Musa agar cara berfikirnya serta pemahamannya terhadap agama itu tidak pragmatis, normatif ‘hitam – putih’, dimana agama hanya dimaknai rangkaian konstruksi doktrin, dogma dalam ritual dan ceremonial, yang nantinya bermuara pada dualitas terma yang terdiri dari hal yang bisa diraba dan dicerna oleh akal budi semata (syar’i-tidak syar’i, benar-salah, baik-buruk, larangan-suruhan, sorga-neraka dsb), karena hal ini seperti konstruksi disiplin ilmu fiqih yang seperti mudah dibaca dan diraba oleh logika manusia, juga memagzulkan unsur mysteri atau teka teki senyawa cinta sang pencipta.

Faktor inilah yang melatar belakangi dihadirankannya sosok nabi Khidir dengan misi mendestruksi ke-Akuan sekaligus merekonstruksi kepincangan paradigma yang ada pada diri nabi Musa pada saat itu, Jika boleh berpendapat maka paradigma tersebut bisa dianalogikan bak “agama robot” dengan sifat kekakuannya tanpa rasa, yang justru berpotensi besar melemahkan diri dan agama. Oleh karenanya beliau (nabi Musa) hendak didesign dengan dunia ilmu yang tak pasti metodologinya, penuh dengan rahasia teka teki dan misteri, bukan sekedar ilmu yang bersifat hitam putih yang mudah dibaca dan dicerna oleh logika akal manusia, pada akhir jawabannya nanti bermuara pada pada pemahaman Ilahiah (ilmu hakikat).

Inilah spiritual power nabi Khidir yang hendak ditransfer kedalam dimensi eksoterik pada diri nabi Musa sebagai penyempurna, sehingga dengan softpower tersebut ia mampu mengkonsentrasikan diri pada aspek nadi cinta dan kasih sayang terhadap seluruh mahluk dan alam raya, dikarenakan hal demikian adalah akumulasi lipatan cinta akan kesan-kesan Pencipta.

Lapisan batin realitas yang nabi khidir ajarkan tak ubahnya air laut yang akan mengambil bentuk lahiriah berupa gelombang-gelombang ombak yang tidak berpotensi merusak hakikat mereka sebagai air laut, dalam artian mengsiergikan sub Iman, Islam & Ihsan dalam satu kesatuan yang mempersatukan keragaman pada titik nadi bhineka tunggal Ika, berkesanggupan menjadi elemen perekat ketunggalan dalam jejaring kebhinekaan.

Senyawa dengan metafora air laut, sebagai visualisasi agama islam yang cinta damai. Maka sepatutnyalah dimensi hakikat esoterik ini dapat diakses dan dialami oleh kebanyakan dari kita. maka selayaknya setiap kita bukan hanya memahami dan memiliki cinta, tetapi juga harus menikmati/merasakan kesan cinta pencipta dalam kesadaran personal dan sosial (shaleh individual & sosial).

Tajuk persatuan nabi Musa As & nabi Khidir As memberikan makna Kesatuan Daratan sebagai

syari’at & Lautan sebagai hakikat

WaAllahu a’lam.

Ahmad Idhofi – Salam Kedamaian